Cara Membatu Perkembangan Anak

Cara Bantu Perkembangan Anak
Cara Membatu Perkembangan Anak

Bagi ayah Bunda yang buah hatinya mulai berkembang. Mari Dukung perkembangannya dengan berbagai hal berikut yuk!

1. Hindari bicara ala bayi. Anak Anda mulai bisa memahami suatu penjelasan seperti anak lebih besar.

Ketika bayi sudah mulai mengerti apa yang kita bicarakan, sebagai orang tua kita harus berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu. Memang kita sebagai orang tua juga manusia yang tidak lepas dari kekilafan. Sehingga sering kali secara tidak sengaja mengucapkan kata-kata yang kurang baik. Sehingga ketika bayi kita mendengar, maka mereka akan menirukan apa yang kita ucapkan.

Pengalaman saya dengan anak saya yang usianya telah menginjak 17 bulan, Hafidz sudah mulai suka meniru. Meniru apa saja yang ia dengar dari lingkungan terdekatnya. Orang tua adalah lingkungan yang paling dekat untuk diitiru setiap saat.

Secara tidak sengaja saya mengucapkan kata-kata aduh!. Sebuah kata yang sangat wajar ketika kita merasakan sakit. Kadang kata aduh juga saya pakai untuk ungkapan sesuatu yang tidak saya inginkan. Tetapi Hafidz seorang bayi pada masa perkembangannya sangat cepat dalam menirukan.

Maka yang terjadi adalah kata aduh ditirunya dan diucapkan secara berulang-ulang. Bahkan dalam kondisi baik-baik saja pun di mengucapkan kata aduh tersebut.

Dengan demikian sebaiknya kita sebagai orang tua tidak bicara ala bayi yang justru menghambat mereka mendapatkan kata-kata yang seharusnya merek terima.

2. Sering-sering ajak ngobrol. Sisihkan beberapa menit untuk ngobrol dan saling mendengarkan. Pelan-pelan saja biar anak punya kesempatan untuk mengekspresikan dirinya.

Aktifitas ini adalah cara untuk stimulasi pertumbuhan anak yang baik. Mengajak anak mengobrol akan membuatnya merasa didengarkan. Walaupun kata-kata yang diucapkan belum jelas artikulasi dari setiap ucapannya.

Anak saya, Hafidz sering berbicara dengan bahasa yang tidak kami pahami. Tetapi kami tetap mendengarkannya ketika ia sedang bicara. Dan sesekali kami mengajaknya berdialog walaupun dialog tersebut hanya lebih menghargai Hafidz seorang anak yang masih bayi yang mencoba belajar untuk berbicara.

3. Hargai permainan anak. Apakah itu permainan musik dengan kaleng atau bermain balok, pastinya permainan dinamis dan imajinatif menstimulasi otak.

Orang tua terkadang merasa risih terhadap anak yang semua benda menjadi mainannya. Maka tidak heran seisi rumah setiap hari berantakan. Karena apa saja yang ia temui adalah mainan buatnya. Peralatan rumah tangga seperti sendok, sutil, panci, wajan, dan barang-barang rumah tangga baginya adalah mainan.

Mainan balok dan mainan edukatif yang kami belikan untuknya di kolaborasi dengan barang-barang yang ada di rumah. Apa saja yang ia temui menjadi bagian dari mainannya dan bagian dalam kehidupannya dalam masa pertumbuhan.

Tinggalkan Balasan