Semua Orang Harus Bisa Bicara Didepan Umum ?

Semua Orang Harus Bisa Bicara

Saya tuh paling takut ketika harus bicara didepan umum. Sebisa mungkin saya akan menghindari untuk bicara didepan umum. Sebisa mungkin membuat diri saya tidak mencolok dari lingkungan kehidupan saya.

Baik lingkungan keluarga, lingkungan ke RT an, lingkungan di tempat kerja, lingkungan dalam komunitas, ataupun lingkungan baru yang sewaktu-waktu saya temui.

semua orang harus bisa bicara

Saya paling cemas ketika harus menghadapi situasi harus bicara didepan umum. Rasanya jika ada acara-acara tertentu, akan ada yang “menembak” saya untuk bicara didepan umum.

Tidak tahu harus ngomong apa jika harus tampil didepan banyak orang dan bicara. Tiba-tiba panik, kerongkongan tercekat, napas tidak beraturan, keringat dingin keluar, rasa percaya diri yang memang hanya sedikit menjadi minus, ketika sadar bahwa saya sedang beridiri dihadapan banyak orang. Maka saya berpikir bahwa semua orang harus bisa bicara.

Rasa takut dan cemas ini bisa datang kapan saja dan dimana saja. Jika sudah ada tanda-tanda atau gelagat harus bicara didepan banyak orang, pasti kecemasan datang melanda dengan sangat cepat.

Padahal ya belum tentu akan disuruh bicara didepan umum, dan kebanyakan memang tidak seperti itu, namun kecemasan yang sering datang menghantui dimana pun dan kapan pun itu.

ketakutan itu juga sangat beralasan dan sangat logis.

Karena apa yang saya pikirkan ternyata memang terjadi. Bohong, ketika ada yang bilang ketakutan itu hanya ada dalam pikiran saja, karena faktanya semua kecemasan saya terjadi seperti apa saya pikirkan.

Pernah saya harus bicara didepan banyak orang, hasilnya sudah bisa di tebak dan sesuai dengan apa yang saya pikirkan.

Yaitu saya tidak tahu apa yang harus saya bicarakan, sulit sekali untuk mengeluarkan kata-kata. Hanya sepatah dua patah kata yang dapat keluar dari mulut saya. Itu pun dengan bahasa yang sangat belepotan.

Siapa saja yang mengalami seperti yang saya alami, pasti kamu sekalian dapat merasakan bagaimana rasanya. Hati dan perasaan tidak karuan, ekpresi wajah menjadi bingung dan terlihat bodoh.

Dan merasak orang akan menilai sangat rendah diri saya. Yang pada akhirnya menimbulkan rasa tidak percaya diri yang sangat dalam.

Yang membuat interaksi social saya menjadi sangat terbatas. Terbatas karena saya tidak banyak bicara, tidak banyak mengungkapan pendapat, dan akhirnya saya hanya diam pada setiap kesempatan untuk bicara.

Barangkali ketakuan ini sudah terbangun cukup lama dan menjadi tabiat saya hingga saya dewasa. Bahkan ketika saya sudah menikah dan memiliki seorang anak.

Ketika masih anak-anak saya takut untuk tampil didepan kelas. Waktu itu masih kelas satu sekolah dasar, kemudian berpikir nanti kalau sudah kelas dua pasti saya tidak takut lagi saat harus maju ke depan kelas.

Ternyata, ketika saya kelas dua, saya juga masih takut untuk maju kedepan kelas.

Lantas saya berpikir pada saat kelas tiga perasaan cemas saat maju didepan kelas akan hilang, ternyata saya salah, perasaan cemas itu tetap masih bersemayam dalam diri.

Dan ironisnya sampai saya sudah berkeluarga dan memiliki anak, perasaan cemas itu bukanya semakin berkurang tetapi semakin bertambah.

Kalau dulu saya hanya cemas karena untuk diri sendiri, sekarang saya harus menahan untuk istri dan anak saya.

Kamu sekalian pasti tahu bagaimana menjadi seorang suami dan seorang ayah yang tidak piawai ketika harus bicara didepan banyak orang.

Perasaan malu itu harus ditanggung keluarga juga. Jadi semakin hari persoalan ini menjadi semakin serius dalam hidup saya. Semua orang harus bisa bicara!

Saya merenung mengapa semua ini bisa terjadi pada diri saya.

Mengapa ketakutan ini terus terjadi dan semakin besar ketakutan itu. Mungkin jawabanya adalah karena rasa takut dan cemas itu sudah terbangun sejak saya masih kecil dan tidak pernah saya lawan. Alhasil perasaan itu menjadi alam bawah sadar saya yang menjadi karakter dan kepribadian saya.

Saat ini saya dituntut untuk bisa bicara pada khalayak ramai. Karena karir saya secara tidak terduga dan rasanya juga tiba-tiba menempati posisi manajer. Cerita tentang karir saya akan saya ceritakan lain waktu.

Dengan posisi saya sebagai manajer, saya harus bisa menyampaikan gagasan , sop, mengarahkan, dan mempengaruhi tim saya agar mencapai tujuan yang saya inginkan.

Masalahnya saat ini, saya hanya mampu memikirkan dan menuliskannya saja. Ketika harus menyampaikanya langsung kepada mereka, saya sering sekali merasa nervous.

Bukan sekali dua kali, tetapi sering sekali ini terjadi.

Oleh karena itu, saya menulis ini karena saya ingin keluar dari zona ketakutan dan menjadi orang yang berani dan mahir untuk berbicara didepan banyak orang.

Karena jika masalah ini tidak saya atasi, maka visi misi saya pada karir saya tidaka akan tercapai secara maksimal. Maka saya harus bisa bicara didepan banyak orang. semua orang harus bisa bicara !

2 Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.